Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

dua puluh sembilan

Sudah malam ke dua puluh sembilan, dan malam yang ke sembilan mereka sengaja mengganggu tidur malam. Di surau berselimut kabut malam itu para manusia masih terjaga. Tertunduk tenang 'membaca'. Terlihat sama, dalam 'perburuan' mereka berlomba. Namu n, apa yang sebenarnya mereka sedang cari di setiap malam hingga harus mempertaruhkan nyamannya dipan dan hangatnya pelukan? Apakah mereka semua sedang 'berburu' hal yang sama? Jawabnya, semua mengaku iya tersembunyi tidak. Maksudnya apa? Sebagian mereka terjaga sepenuh hati jujur berburu seribu bulan, seribu kebaikan yang dijanjikan. Sebagian kita terperosok salah jalur, berpenyakit hati berburu seribu pujian, mengharap sanjungan. Kasat mata mereka terlihat berlomba berusaha terjaga, dengan satu alasan yang sama : ليلة القدر. Namun kawan, perkara hati yang membuat semuanya menjadi sangat berbeda. Kemudian, sepandai apapun manusia menyelinap, Roqib dan Atid tidak akan pernah salah dalam mencatat. Mari mengoreksi ...

Kembali Untuk Pergi

Gambar
Waktu itu. Sejak awal 'bertemu', sejak kejadian itu. Sudah sangat lama pemuda ini ingin sekali bertamu tuk memungut madu. Menyudahi pencarian, dan menjemput penantian. Waktu terus berlalu. Asa itu tumbuh semakin tak menentu. Dan tak terasa, satu tahun telah menemaninya dalam halu. Bersama desas-desus yang semakin tak bermutu. Dan sekarang. Mentalnya telah penuh terisi. Maka di sebuah malam yang sepi, tiba-tiba saja seorang diri pemuda itu telah berdiri kaku didepan daun gawang pintu, sebelum akhirnya ia memaksa telunjuk tangannya tuk 'mengetuk rumah'. Sekali pintu diketuk beriring salam, dan begitu cepat salam langsung tersambut pelan. Pintu terbuka, ramah berjabat tangan erat, dipersilahkan masuk. Ia masuk, lalu duduk. Setelah sekian lama ia menyimpan rahasia, dan selama itu juga ia memupuk mental untuk mendatangi rumahnya. Sekarang ia betul 'harus' mendatangi rumah itu. Rumah yang telah lama ingin sekali ia tuju. Sekarang ia ben...

HAWA

Gambar
Perihal makhluk bernama "hawa". Kita memang sering dibuat tak berdaya. Terlihat bersekat jarak, terjaga. Namun tenang bersapa, bermanja. Bersajak bersama di dunia maya. Mudahnya manusia bermain drama. Cukup Allah yang maha tahu. Kita benar terjaga atau pura-pura. Atau seakan kita punya 2 dunia? Untuk di kehidupan nyata harus terlihat tersekat jarak, begitu berwibawa. Namun, saat berselancar di alam maya, mudahnya untuk bersapa ramah lalu tertawa bersama. Sampai mungkin timbul rasa. Rasa yang tumbuh dari sebuah dosa. Kamu sebut cinta. Agama sebut dosa. Sadarlah kita. Akan banyak hati yang terluka. Harapan yang terlampau kecewa. Jangan teruskan. Sudah. Ini Salah, mari berbenah, kita berubah. Lillah.